PERAN TEKNIK AVERSI DALAM MENANGANI KASUS PADA REMAJA YANG MENGALAMI GANGGUAN IDENTITAS GENDER (GIG)



TEKNIK AVERSI DAN TERAPI WICARA



MUHAIMIN
NIM: 11561100386
Kelas: VI C
DosenPengampu: Hirmaningsih, S.Psi., M.Psi., Psikolog


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITASISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2018


PERAN TEKNIK AVERSI DALAM MENANGANI KASUS PADA REMAJA YANG MENGALAMI GANGGUAN IDENTITAS GENDER (GIG)

A. Pengertian 
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia terapi merupakan pengobatan  penyakit. Sedangkan aversi  adalah perasaan tidak setuju disertai dorongan untuk perubahan tingkah laku diri atau  menghindar. Maka Terapi Aversi ini berarti, pengobatan perubahan tingkah laku atau  perasaan  yang tidak setuju berusaha untuk dihindari tidak dilakukan kembali. 
Terapi   aversi   yang   dilakukan   untuk   mengurangi   perilaku simptomatik  dengan  cara  menyajikan  stimulus  yang  tidak  menyenangkan (menyakitkan)   sehingga   perilaku   yang   tidak   dikehendaki   (simptomatik) terhambat  kemunculannya. 

B. Tujuan 
Tujuan utama dari metode untuk membawa seseorang kepada tingkah laku yang diinginkan. 


C. Cocok untuk gangguan pada anak
Terapi Aversi ini cocok diguakan untuk remaja yang mengalami gangguan identitas gender (GIG). Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Endah Dawangsih tahun 2017 dengan subjek siswa SMP kelas 2 dengan judul Peran Teknik Aversi Dalam Menangani Kasus Pada Remaja Yang Mengalami Gangguan Identitas Gender (GIG) dengan hasil Dari hasil sesi terapi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan tercapainya pemahaman diri subyek dengan perspektif yang baru. Dapat dikatakan ia memperoleh pemahaman yang lebih baik terkait dengan peran gendernya sebagai perempuan. Konflik masih ia rasakan, terutama bila ia mengingat rasa nyaman yang diperoleh ketika ia memiliki relasi dengan sesama jenis. Meski proses terapi ini terhenti, namun tujuan terapi yaitu menguatkan identitas gendernya pada tataran kognitif tercapai.

D. Prosedur Terapi Aversi
1. Tahapan
a. Menjelaskan pada klien mengenai program terapi meliputi jumlah pertemuan juga aktivitas dalam setiap pertemuan dan pemberian homework.
b. Mendiskusikan masalah yang dihadapi subyek ( klien) secara bersama-sama untuk menemukan aspek-aspek kepribadian yang menjadi faktor pendorong ia mengalami disorientasi seksual, pengalaman-pengalaman di masa lalu.
c. Teknik Aversi : Memasangkan tampilan gambar-gambar perempuan dengan gambar-gambar laki-laki. 
















Pelaksanaan  Terapi  Wicara  dan  Terapi  Sensori  Integrasi pada Anak Terlambat Bicara

A. Pengertian 
Terapi wicara adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang gangguan bahasa, wicara dan suara yang bertujuan untuk digunakan sebagai landasan membuat diagnosis dan penanganan. Dalam perkembangannya terapi wicara memiliki cakupan pengertian yang lebih luas dengan mempelajari hal-hal yang terkait dengan  proses  berbicara, termasuk didalamnya  adalah proses menelan, gangguan irama/kelancaran dan gangguan neuromotor organ artikulasi (articulation) lainnya.

B. Terapis wicara memiliki peran dan fungsi 
a. Peran
1) Pelaksana
Memberikan pelayanan terapi wicara kepada pasien yang mengalami menelan dan berkomunikasi yang meliputi gangguan wicara, bahasa, suara, dan irama/kelancaran.
2) Pengelola
Mengelola pelayanan terapi wicara secara mandiri maupun terpadu di tingkat pelayanan dasar, pelayanan rujukan dan pelayanan yang dilaksanakan lembaga swadaya masyarakat.
3) Pendidikan
Memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat umum tentang keberadaan dan eksistensi terapis wicara dalam upaya pembangunan kesehatan dan secara terus menerus mengadakan proses pendidikan bagi terapis untuk meningkatkan mutu profesionalisme, antara lain kemampuan dalam mengembangkan diri, kredibilitas dan kreatifitas guna mencapai sub spesialistik.
4) Penelitian
Membantu melaksanakan penelitian untuk hal-hal yang berhubungan dengan gangguan kemampuan menelan dan berkomunikasi, mengumpulkan data-data empirik dari pengalaman melaksanakan tugasnya sebagai bahan untuk dilakukan pengkajian lebih lanjut.




b. Fungsi
1) Fungsi Pelaksana
(a) Melakukan indetifikasi masalah-masalah kesehatan yang berkaitan dengan terapi wicara dan hal-hal yang berhubungan.
(b) Merencanakan tindakan di bidang terapi wicara dan hal-hal yang berhubungan sesuai dengan kebutuhan pasien.
(c) Melakukan tindakan di bidang terapi wicara dan hal-hal yang berhubungan, sesuai dengan kebutuhan pasien agar .mampu menelan dan berkomunikasi kembali ke dalam kehidupan bermasyarakat yang mandiri dan produktif.
(d) Mengevaluasi hasil tindakan di bidang terapi wicara dan hal-hal yang berhubungan dengan menggunakan kriteria-kriteria yang berlaku (ditetapkan).
(e) Bekerjasama dengan sejawat (terapis wicara) khususnya dan ahli/disiplin lain yang berhubungan dalam rangka penanganan pasien di bidang terapi wicara dan hal-hal yang berhubungan.

2) Pengelola
Mengelola bidang terapi wicara di unit pelayanan rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya.
3) Pendidikan
Menyelenggarakan dan membina upaya penyebarluasan informasi di bidang terapi wicara kepada pihak-pihak lain yang berhubungan.
4) Penelitian
Mengkaji masalah-masalah yang ada dan timbul dalam rangka melaksanakan penelitian di bidang terapi dan hal-hal yang berhubungan.


C. Prosedur Kerja Terapi
a. Asesmen
Bertujuan untuk mendapatkan data awal sebagai bahan yang harus dikaji dan dianalisa untuk membuat program selanjutnya. Asesmen ini meliputi tiga cara, yaitu melalui anamnesa, observasi, dan melakukan tes, di samping itu juga diperlukan data penunjang lainnya seperti hasil pemeriksaan dari ahli lain.


b. Diagnosis dan Prognosis
Setelah terkumpul data, selanjutnya data tersebut digunakan sebagai bahan untuk menetapkan diagnosis dan jenis gangguan/gangguan untuk membuat prognosis tentang sejauh mana kemajuan optimal yang bisa dicapai oleh penderita.
c. Perencanaan terapi wicara
Perencanaan terapi wicara ini secara umum terdiri dari :
1) Tujuan dan program (jangka panjang, jangka pendek dan harian).
2) Perencanaan metode, teknik, frekuensi dan durasi.
3) Perencanaan penggunaan alat.
4) Perencanaan rujukan (jika diperlukan).
5) Perencanaan evaluasi.
d. Pelaksanaan terapi wicara
Pelaksanaan terapi harus mengacu pada tujuan, teknik/metode yang digunakan serta alat dan fasilitas yang digunakan.
e. Evaluasi
Kegiatan ini terapis wicara menilai kembali kondisi pasien dengan membandingkan kondisi, setelah diberikan terapi dengan data sebelum diberikan terapi. Hasilnya kemudian digunakan untuk membuat program selanjutnya.
f. Pelaporan Hasil : Pelaporan pelaksanaan dari asemen sampai selesai program terapi dan evaluasi.




DAFTAR PUSTAKA


Latipun. 2008.  Psikologi Konseling, Malang: UMM Press
Nadwa. (2013). Pelaksanaan Terapi Wicara dan Terapi Sensori Integrasi pada Anak Terlambat Bicara. Jurnal Pendidikan Islam. IAIN Walisongo. Vol. 7, Nomor 1
Nawangsih, Endah. (2017). Peran Teknik Aversi Dalam Menangani Kasus Pada Remaja Yang Mengalami Gangguan Identitas Gender (GIG). Journal of Psychological Research. Volume 3, No.1. Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung. 
W.  J. S. Poerwadarminta. 2007. Kamus Umum  Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 
Pihasniwati. 2008. Psikologi Konseling, Yogyakarta: Teras, 2008


Comments

Popular posts from this blog

Jurnal psikologi bahasa inggris beserta terjemahannya dalam bahasa indonesia

review jurnal psikologi perkembangan “Hubungan Antara Kematangan Emosi dengan Kecenderungan Memaafkan Pada Remaja Akhir”

contoh review jurnal psikologi pendidikan